Puasa, Sebuah proses "Menjadi"
Meski tengah menghadapi pandemi, nggak menjadi alasan penghalang kita berpuasa, Tetap sambut Bulan suci Ramadhan ini dengan suka cita ya kawan-kawan. Semua dari kita tahu bahwa kegiatan berpuasa sebenarnya bukan Cuma dilakukan oleh kaum muslimin saja. Hampir semua agama-agama besar di dunia juga melakukan ibadah
puasa dengan caranya masing-masing. Tujuannya sama pada hakikatnya, yaitu untuk meningkatkan kualitas kemanusiaan . Dalam ajaran Islam ini dimulai dengan Iman, kemudian Islam dan puncaknya adalah Takwa.
Ada banyak definisi takwa, tapi menurutku, esensi takwa adalah merasakan kehadiran Tuhan dalam keseharian kita,inilah yang dapat melahirkan pribadi yang layak dipercaya dan memiliki integritas yang tinggi. Coba kita lihat perilaku kita selama puasa. Kenapa kita nggak mau minum setetes air pun, padahal kan nggak ada orang yang tahu? Karena kita sepenuhnya sadar Tuhan ada bersama kita. Kita nggak bohong karena tahu Tuhan bersama kita. Kita nggak korupsi karena tahu di dekat kita ada Tuhan.Perilaku baik kita akan berubah segera setelah bulan puasa berakhir. Coba aja kita perhatiin tayangan-tayangan yang
muncul di televisi selama bulan puasa.Semuanya tampil dengan sopan bahkan para artis seakan
berlomba-lomba menggunakan busana yang sopan, berbeda dari biasanya, tayangan-tayangan layar kaca juga lebih bernuansa Islami, Tapi jangan buru-buru gembira. Keadaan ini bisaberakhir begitu bulan puasa berakhir.Aku nggak tahu apa alasan mereka semua. Mungkin aja mereka ingin menghormati bulan puasa. Tapi apa pun alasannya perilaku seperti ini menunjukkan bahwa pelakunya masih berorientasi “memiliki”.
Dalam bulan puasa kita bersabar saat dimaki orang, tapi setelah puasa kita balas memaki.
Ini berarti kita cuma “memiliki” kesabaran,
tapi belum berhasil “menjadi” orang yang sabar. Kita nggak pernah berbohong selama puasa, tapi kembali berbohong pada bulan berikutnya. Itu artinya kita “memiliki” kejujuran tapi belum
“menjadi” orang yang jujur.
Apa pun yang Kita miliki masih bersifat eksternal. Dan seperti halnya benda-benda materil, semua yang kita miliki termasuk kejujuran dan kesabaran kita bisa hilang. Inilah perbedaan utama antara memiliki dan menjadi.Puasa yang berhasil adalah yang melahirkan orang
yang takwa, yaitu orang yang telah “menjadi” takwa dan nggak sekadar "memiliki" ketakwaan.
👍👍
BalasHapus