Membaca sebagai sarana penyembuhan

kali ini mau nulis personal opinion,  i wanna talking about my current condition :)

well, aku adalah perempuan yang memiliki latar belakang kehidupan yang kompleks, aku tergolong ambivert tapi memiliki kecenderungan ke extrovert, aku banyak sharing dan deep talk dengan teman-teman aku itu merupakan cara buat nge heal something wrong with my mental health, dan itu berlangsung secara continue aku merasa dengan sharing bisa meringankan beban tapi time flies people change dan pasti ga jarang teman-teman kita makin dewasa makin disibukkan oleh banyak hal,

 so aku harus bisa ngandelin diri sendiri dalam hal apapun, alih-alih pergi ke psikiater aku prefer spend my time to read about self improvement book, (tapi aku sarankan jika memiliki gangguan kecemasan yang terbilang parah lebih baik konsultasi ke tenaga yang profesional dan jangan asal mendiagnosis sendiri).  Kecemasan yang aku miliki masih terbilang biasa seperti kecemasan dan keresahan anak muda yang menginjak usia dewasa pasa umumnya, ketika membaca buku aku merasa lebih hidup dan lebih memiliki semangat, 

 membaca buku self improvement merupakan alternatif buat bisa menstabilkan kesehatan mental bagi orang-orang low budget kaya aku hehe, barusan buku yang aku lirik adalah buku-buku seperti (things only you see when you slow down, love for imperfect thing, i want to die but i want to eat teokpokki, the things left behind, how to respect my self, who are you) dari korea selatan, salah satu negara yang memiliki indeks kematian dengan bunuh diri tertinggi dan untuk meminimalisir terulangnya tindakan tersebut banyak penulis yang mulai launching buku-buku recomended buat anak muda yang sedang di fase quarter life crisis terus bingung nyari buku self healing, untuk mendapatkanya ga sulit bisa di book store bisa di e commerce, 

 buat kalian yang kurang paham bahasa asing sudah banyak buku import korea yang diterjemahkan dengan bahasa indonesia, dengan meningkatkan kesadaran membaca kita bisa lebih memiliki karakter yang kuat dan analitis, kerangka berfikir kita jadi lebih lebar karena terlalu sulit menyimpulkan suatu hal hanya dengan 1 perspektif, kadang diskusi emang baik tapi kapabilitas orang berbeda-beda dan sebagian dari kita ga terlalu tertarik menjadi pemikir yang dalam jadi ketika kita merasa butuh konselor yang memiliki kemampuan problem solving aku rasa buku adalah jawabanya... im a reader am a healer for my self

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer