How i think, as a woman being

Di zaman sekarang banyak banget kita jumpai perempuan-perempuan hebat yang kuat dan inspiratif. Perempuan sekarang mampu memegang kendali atas hidup mereka sendiri, sadar dan bertanggung jawab atas peran mereka. Dengan mengetahui hal ini membuatku terdorong untuk berusaha lebih giat lagi khususnya dalam karirku. Aku tahu apa yang aku mau dan aku tidak akan terbelenggu oleh tuntutan sosial manapun. 

Aku jarang bahkan tidak pernah menampakkan kehidupan pribadiku di sosial media, sehingga membuat beberapa orang seperti kolega atau tetangga bertanya sebenarnya siapa yang membersamaiku sehingga aku bisa menjadi diriku yang sekarang? diriku yang selalu kelihatan bahagia tanpa pernah menampilkan foto laki-laki atau pasanganku. Jujur aku sangat heran kenapa tolak ukur orang bahagia adalah pasangan? 

Bukankah dibersamai maupun tidak diriku oleh laki-laki  sama sekali tidak mengurangi valueku sebagai perempuan? Apakah ketika aku memiliki sosial media aku harus mengabarkan secara publik setiap aku menjalin hubungan dengan orang lain? lalu andai aku mengungkap "statusku" sekarang  apakah akan memberi manfaat bagi masyarakat luas? haha jelas amat sangat tidak penting. 

Seringnya juga aku selalu ditanya : kalau kerja jangan cuman mikir kerjaan tapi juga segera nikah gih, teman-temanya udah pada punya anak. So why? why i must hv done the same thing like other people do when i don't actually interest, ofc i always hv my own reason and i think i don't need to explain my next plan to others.

 Kita tinggal di Indonesia yangmana negara Indonesia ini adalah negara dengan mayoritas Muslim terbanyak di dunia, Pasti warganya yang muslim juga mengetahui paling tidak dasar-dasar ilmu dalam islam. Aku adalah seorang muslim, orang yang melontarkan pertanyaan kepadaku itu juga muslim tapi kenapa seorang "muslim" harus mempertanyakan terkait pacar kepada orang lain yang jelas-jelas muslim, hey dude u guys all alredy know what i mean that's haram. 

Sejak kapan Islam menganjurkan umatnya buat pacaran? jadi jangan terlalu kepo dengan kehidupan pribadiku sih. Kalau aku memiliki rekam jejak memiliki kekasih pun tidak perlu kujelaskan karena itu aib itu bukan perbuatan baik. Segala hal yang ada di dunia ini sifatnya hanya titipan maka sudah selayaknya kita tidak menjadikanya sebagai tolak ukur kebahagiaan karena sejatinya kebahagiaan itu  letaknya ada di hati dan dan bisa kita ciptakan sendiri tanpa harus mencari validasi orang lain. 

Pasca pandemi tingkat perceraian di negri ini kian meluap lebih banyak, mengetahui hal tersebut sangat miris karena sebagian besar dipicu oleh alasan finansial, bagimana nasib jika kita hanya menggantungkan diri pada orang lain? ketika cerai tamat sudah hidup kita. 

Banyak contoh kasus perselingkuhan dan bahkan pembunuhan yang diakibatkan oleh persoalan ekonomi maka sudah seharusnya perempuan mulai menyadari pentingnya mengambil peran dalam menghidupi diri sendiri. At the end of the day all u hv is your self kita matipun sendiri jadi jangan lupa fokus juga sama diri sendiri. 

Sebagai generasi muda perempuan harus lebih mengoptimalkan potensi diri dan mulai menghargai diri mereka sendiri, faktor-faktor eksternal tidak akan menggoyahkan perempuan independen yang memiliki karakter. Stop merengek-rengek sebab putus cinta lah, merusak diri sendiri lah, clubbing dll yang tidak ada faedahnya. Gali potensi semaksimal mungkin jangan cuman glow up tapi juga grow up sampai level up

Komentar

Postingan Populer