Kepada Pemilik Langit dan Bumi, Terimakasih ya Allah

 Kalau kilas balik sebelum menjadi versi diri aku yang sekarang, aku adalah orang yang sensitif banget, ga bisa santai kaya kepekaanku itu tinggi terlepas dari benar enggaknya prasangka-prasangka negatif yang sering bergumul di kepalaku lewat aku menilai orang lain aku cukup kesulitan dalam mengontrol diriku sendiri. 

Banyak hal dalam society yang membuat aku merasa ga nyaman, dari kecil aku selalu ngerasa bahwa semua yang aku lakukan selalu mendapat komentar dari orang lain dan mostly orang lain itu sama sekali ga berkontribusi dalam hidupku. Dari kecil aku punya banyak keresahan dalam diri kenapa hidupku ini serasa paling menyebalkan, ketika aku berangkat sekolah aku menjumpai orang-orang kurang kerjaan yang sering berkumpul dengan orang lain hanya untuk menggunjing sesama teman. 

Aku selalu tertutup dari mulai kecil aku ga pernah menjadi orang fake yang pura-pura baik agar bisa diterima di society, mungkin itu alasan kenapa teman-temanku dari Sd-SMA jumlahnya hanya bisa dihitung dengan jari. Kalau mengingat masa-masa itu memang sangat kelam akupun juga sering keluar masuk ruang konseling sekolah karena hidupku selalu seenaknya, bagiku dulu ketika orang lain menyakitiku aku tidak takut akan langsung ku eksekusi di tempat. 

Aku sering menangis untuk hal-hal yang dianggap orang lain sepele aku merasa diriku lemah dan selalu kesal kenapa aku harus hidup di dunia yang dipenuhi orang-orang jahat. Pada saat itu aku memang memiliki agama, Aku seorang muslim namun sekalipun aku beribadah aku hanya melakukan itu agar ibuku tidak marah, aku tidak tahu esensi dari kenapa aku harus beribadah, mirisnya pada saat itu aku berfikir bahwa agama itu menakutkan selalu mengingatkan tentang neraka, azab, mengait-ngaitkan permasalahan dengan hal-hal gaib yang menurutku tidak masuk akal.

 Sehingga pada masa itu aku tidak memiliki pegangan hingga berkali kali ingin mengakhiri hidup namun syukurnya belum terjadi. Perhatian keluargapun tidak  kudapatkan secara seharusnya, aku merasa tersingkir semrnjak adikku lahir karena memang pada saat itu aku benar-benar butuh kasih sayang orang tua tapi kenyataan malah sebaliknya, banyak hal-hal dan perlakuan yang tidak manusiawi kudapatkan maka pelampiasanku agar diperhatikan adalah dengan cara-cara tidak benar agar setidaknya orangtuaku sedikit peduli. 

Puncak dari lonjakan emosi yang kurasakan adalah saat tahun 2017 tepatnya bulan april Ayahku meninggal sehingga makin gelaplah sudah hidupku setiap hari yang kulakukan hanya melamun menangis hingga secara tidak sengaja aku menemukan video singkat dari instagram cuplikan dakwah singkat yang bunyinya begini : sebagai perempuan yang tidak berhijab  engkau bisa memakai hijab kapanpun engkau siap tapi ingatlah bahwa kematian juga bisa datang kapan saja tanpa menanyakan kesiapanmu, 

Sontak cuplikan video itu langsung menggetarkan hatiku sehingga aku tergerak untuk mulai memakai hijab, menghapus segala fotoku tanpa hijab dari media sosial dan mulai mempelajari Islam secara perlahan yang ternyata membuatku sadar tentang pentingnya spiritualitas dalam hidup agar bisa melembutkan hati dan ego serta menguatkan mentalitas diri.Saat mempelajari Islam secara kaffah aku baru tahu apa arti dari kedamaian hakiki, kedamaian batin meski tengah dihantam gelombang kehidupan ada kekuatan luar biasa yang menopangku, Kuasa Allah memang luar biasa, 

Jika kita orang beriman menyadari betapa luas cinta Kasih Allah kepada kita maka saat itulah kita akan menjadi manusia paling bahagia, dunia ini tidak lebih hanya ladang mencari amal dan sebuah tempat singgah sementara maka memang sudah seharusnya tidak kita masukkan kedalam hati. Ada yang membuat manusia bisa hidup sesuai fitrahnya maupun tidak semua tergantung keilmuan yang dimiliki, aku masih sangat awam sangat dangkal terhadap agama ini tapi masih tengah mempelajari lebih agar orientasi hidup lebih terarah, Ingatlah hanya dengan mengingat Allah Hati menjadi tentram.

Alam semesta dan seisinya ini diciptakan oleh Tuhan kita Allah Azza Wa Jalla supaya kita berfikir, dan hanya orang-orang berfikirlah yang bisa menyadari petunjuk Tuhannya. Seringnya aku ngerasa bahwa ketika aku sedih Tuhan selalu memberi aku penghiburan  lewat orang-orang yang menasehati aku, aku ngerasa kaya orang lainpun bisa jadi wakil Tuhan di dunia ini secara tidak langsung buat ngasih aku kekuatan.

Tuhan setiap hari sebenarnya memang selalu hadir dan berbicara pada kita, tinggal kita aja mampu ngga merasakan kehadiranNya. Aku itu ngga berdaya tapi aku yakin Tuhanku maha besar maha kaya maha kuasa atas segala yang ada di langit maupun di bumi, fakta itulah yang membuatku lebih berani menghadapi segala ujian di dunia yang fana ini. ketika aku lagi menghitung nikmatNya sambil malu secara tidak sadar sering berlinang air mata betapa bodohnya aku yang terkadang masih suka lalai dan tidak tahu diri merasa masih memiliki banyak kekurangan. 

Kita itu lemah kalau bukan karena belas kasih Tuhan kita ga mungkin bisa bertahan sampai sekarang ditengah dunia yang sedang hancur-hancurnya ini serta kemursalan yg ada dimana-mana. Ketika aku diuji aku punya keyakinan bahwa bukan Tuhanku jahat tapi bisa jadi itu bentuk pertolongan entah agar meringankan hisab di hari perhitungan nanti atau menyelamatkan kita dari perkara-perkara yang tidak kita ketahui. (bahwasanya Allah maha mengetahui sedangkan kita tidak)

Ya Illahi Robbi, ketika engkau menghadirkan sosok orang-orang yang selalu mengingatkanku atas kebesaranMu hamba sangat bersyukur, terimakasih atas  nikmat Iman dan Islam yang atas RidhoMu hamba bisa masuk dalam golongan umat Rasullullah Sallahu Alaihi wasallam. Terimakasih ya Allah tanpa iman pastilah hati hamba yang lemah seperti remahan peyek ini mudah hancur tapi atas IzinMu hamba masih dapat menjangkau cahaya itu, cahaya manisnya iman.

Komentar

Postingan Populer