Regulasi Emosi
Beberapa keadaan dalam hidup ada kalanya berjalan tidak sesuai dengan rencana kita, respon pertama yang dilakukan kebanyakan orang seringnya adalah menahan diri. Kita ambil contoh semisal ada seseorang yang terbiasa menahan diri ketika tengah dibuat kesal oleh orang lain lalu kita ibaratkan tindakan "penerimaan" orang tersebut sebagai sebuah wadah.
Wadah air misalnya, apabila diisi dengan banyak air jika kapasitas wadah tersebut pada dasarnya terbilang kecil maka suatu saat akan meluap. Hal itu tidak jauh berbeda dengan ketika kita memiliki kebiasaan menahan diri, menahan emosi tanpa adanya regulasi emosi.
Reguasi emosi ini adalah bagaimana cara kita mengatur respon ketika mengalami beberapa kejadian atau peristiwa yang tidak mengenakkan dengan lebih memikirkan matang-matang, misalnya berbicara dengan diri sendiri bagaima cara terbaik kita menerima hal tidak mengenakkan tersebut.
Contohnya : Kita sakit hati karena ada orang yang menyakiti kita lewat perkataanya secara tiba-tiba entah menggertak atau bahkan berbicara sarkas tanpa sebab. Coba pikirkan kemungkinan-kemungkinan lain misalnya orang tersebut bertindak demikian karena interprestasi dari hal lain yang ia alami sebelumnya entah karena memiliki kesibukan extra hingga membuatnya kelelahan secara fisik dan mental,
entah permasalahan keluarga secara finansial, atau masalah percintaan yang kandas tiba-tiba sehingga orang tersebut sensitif, dll. Lalu bagaimana jika memang kebiasaan orang tersebut memang marah-marah tidak jelas dan selalu menggunakan nada tinggi ketika berbicara?.
Tugas kita pada perinsipnya adalah mengelola dan mengatur hal-hal yang sifatnya internal (dalam kendali kita) segala hal yang bersifat eksternal jelas itu bukan kendali kita. Menanggapi orang yang memang berkarakter sering berbicara tidak mengenakkan seperti tadi itu cara kita menanggapi adalah dengan membuat kemungkinan-kemungkinan lain dalam pikiran kita yang sifatnya bisa membuat kita menerima tindakan buruk orang lain tersebut
meski dengan membuat fake scenario seperti yang aku contohin tadi, ga salah kog kan tujuan kita dengan membuat perspektif berbeda adalah agar tidak sakit hati, dengan begitu kita juga bisa menjadi pribadi yang lebih berjiwa besar.Regulasi emosi itu sangat diperlukan agar pikiran kita juga lebih tenang serta jauh dari emosi-emosi negatif yang justru akan menyakiti diri kita sendiri.
Bukan keadaan dari luar yang mampu mempengaruhi mood kita tapi respon terhadap apa yang tengah terjadilah yang utama. Jadi alih-alih sekedar menahan diri cobalah berdialog sebentar dengan diri sendiri tentang bagaimana cara terbaik memilih respon setiap peristiwa yang terjadi.
Komentar
Posting Komentar