You're your own Home

Rumah yang sesungguhnya itu identik dengan kenyamanan, bukan hanya berupa tempat untuk berteduh tapi juga tempat yang bisa menerima kita seutuhnya. Ketika kita lelah dan ingin melarikan diri dari realitas, rumah seharusnya bisa menjadi tempat dimana kita beristirahat. Tidak selalu harus berbentuk bangunan rumah menurutku adalah sosok manusia, seseorang yang selalu kita rindukan untuk pulang.

Banyak orang berpergian jauh dengan tujuan agar dapat menemukan rumah mereka, mereka mengorbankan banyak hal untuk orang lain orang yang mereka sayangi. Tetapi faktanya di akhir hari ketika kita pulang setelah melewati rutinitas tidak ada orang lain yang akan bisa memperlakukan kita seperti yang kita harapkan, 

tidak ada manusia yang lebih mengerti dan memahami kita selain diri kita sendiri, tidak ada orang yang bisa kita ajak berdialog dengan dalam dan jujur tanpa ada yang ditutup-tutupi kecuali diri kita sendiri. Begitupun diri kita terhadap orang lain belum tentu kita bisa menjadi "rumah bagi mereka"

Kepahitan paling besar adalah berharap kepada sesama manusia, begitu kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu. Semakin dewasa aku menurunkan ekspektasiku serendah-rendahnya bahkan nol terhadap manusia baik itu kerabat maupun keluarga, aku menyayangi mereka dengan tulus ikhlas namun tidak mengharap apapun sebab menggantungkan pengharapan kepada manusia akan membuat kita kecewa.

Lahir dari keluarga yang tidak sempurna membuatku didewasakan lebih cepat, beberapa anak mungkin beruntung mendapatkan kasih sayang yang utuh tapi sebagian anak yang lain juga tidak kalah beruntung, mereka dianugerahi oleh sang pencipta berupa bahu dan mental yang lebih kuat dalam menghadapi dunia sedini mungkin.

Dulu ketika masih kecil aku adalah anak nakal yang sering membuat ibuku marah sehingga itu sering menjadi alasan luka lebam di tubuhku karena dipukul, dulu aku sangat benci disakiti secara fisik dan hal yang selalu terlintas di kepalaku adalah ibuku tidak menyayangiku, beberapa orang tua seringnya mengobati anak mereka yang terluka tapi kenapa aku berbeda justru bekas lukalah yang kumiliki.

Dimata Ibuku sepertinya aku adalah anak nakal yang tidak bisa diatur dan suka berteriak, padahal saat itu aku memang kurang mendapat perhatian aku tidak pernah ditanya sedang memiliki kesulitan apa, aku juga tidak pernah diajarkan menjadi anak yang sopan karena yang kutau hanya kekerasan.

Jika kilas balik ke masa itu nampaknya amat pahit, aku merasakan banyak kekerasan baik verbal maupun non verbal namun jika semua kejadian yang kutulis dari sudut pandangku rasanya seperti kurang adil karena nanti aku pasti akan kelihatan tersakiti dan merasa paling benar sendiri, haha.

Menginjak dewasa, aku mulai penasaran dan ingin mencari tahu lebih lanjut alasan dari trauma masa kecil yang masih sering menghantui dan menjadi mimpi burukku, aku mulai belajar lebih mendalami spiritualitas dan ilmu psikologis dari yang basic agar aku tahu bagaimana caraku bersikap dan sigap dalam membangun resiliensi ketika tengah mengalami krisis mental.

Jika mengingat lebih jauh, Ibuku sering bercerita tentang nenek dan kakek yang bercerai sehingga hidup ibuku memang sulit baik secara finansial maupun emosional, ibuku bekerja keras semasa sekolahnya dulu agar bisa tetap bersekolah. Semasa SMA ibuku tidak tinggal bersama kakek ataupun nenek, ibuku tinggal bersama kerabat jauh di kota yang jauh pula dari kakek dan nenek. Sering kelaparan karena setiap hari tidak pernah sarapan meski membuatkan sarapan orang lain,

seperti pembantu ibuku harus bekerja keras agar tetap bisa menumpang di rumah orang, amat sangat menyedihkan saat itu karena kakek dan nenek tidak begitu peduli terhadap Ibu. Selain faktor broken home sepertinya memang karena teknologi belum begitu maju dan keuangan sangat terbatas ibuku tidak dapat mengakses informasi seputar ilmu psikologis yang bisa membantunya bangkit dalam masa-masa sulit.

Singkatnya begitu, memang latar belakang ibukulah yang menjadikanya tidak begitu bisa bersikap sebagaimana mestinya orang tua ketika mendidik anaknya semasa kecil, tidak mengetahui ilmu parenting itu amat sangat berdampak bagi mental anak. Aku tidak berhak menyalahkanya sebab memang hidupnya lebih pelik dari hidupku dan akupun tidak sempurna tentu aku banyak membuat kesalahan juga.

Komunikasi kami tidak begitu berjalan baik, hanya menanyakan hal-hal yang biasa tidak terlalu dalam. Aku jarang berlama-lama dirumah dari kecil sampai kuliah bahkan ketika weekend aku memilih untuk pergi keluar rumah, tapi kabar baik atau hikmah dari hal yang kualami adalah menjadikanku lebih mandiri dari anak-anak pada umumnya.

Semasa kuliah aku terbilng lulus paling cepat di kelasku, aku selalu totalitas pasca lulus aku berkomitmen untuk harus bisa mandiri secara finansial aku diterima bekerja 2 bulan setelah menerima surat kelulusan, mungkin orang lain menanggap hal ini biasa tetapi aku amat bersyukur masa sulit justru bisa kujadikan sebagai bahan bakar agar diri lebih berkembang.

Semua manusia memang tidak mungkin luput dari yang namanya cobaan, tapi tidak semua manusia mampu berfikir tentang sebab akibat dari hal yang menimpa mereka, jika setiap manusia memiliki kesadaran akan selalu ada hal baik yang masih bisa banyak disyikuri pasti semua orang tidak sulit untuk tersenyum.

Di tulisan blogku sebelumnya aku pernah membahas tentang self harm dengan pembahasan terkait dikotomi kendali dari ajaran stoisisme dan juga tulisan blogku yang lain tentang regulasi emosi sepertinya tulisanku kali ini masih memiliki korelasi dengan dua judul tersebut, 

bedanya kali ini aku membahas dengan contoh konkret kompleksitas hubungan dalam keluarga tetapi intinya sama yaitu kita kita tidak boleh hanya berfokus pada kesalahan orang lain, kesalahan orang lain juga pada faktanya memang dipicu oleh faktor lain yang dialami orang tersebut sehingga kita tidak boleh merasa paling benar karena kita pada dasarnya juga sama-sama manusia yang tidak luput dari kesalahan.

Jika kita melihat lebih luas dan jika kita memiliki kemampuan untuk membaca pikiran seseorang mungkin kita tidak akan pernah tega mengatakan hal buruk sebab kita tahu semua dari kita sedang berjuang mati-matian untuk tetap hidup. 

Sebisa mungkin jadikan diri kita ini rumah yang ramah untuk diri kita sendiri, ketika dunia luar tampak kacau kita masih bisa mengandalkan diri kita untuk bertahan dengan diimbangi berdoa kepada sang pencipta dan hanya menggantungkan pengharapan kepadaNya.

Ketika hari libur, ajak diri kita untuk sejenak menikmati hidup seperti pergi mencari susu hangat, coklat, atau secangkir kopi dan buku favorit untuk dibaca. Jika kita tidak belajar menikmati hidup dan hanya larut dalam persoalan maka kita tidak akan pernah bisa bahagia, bahagia bukan berarti adalah keadaan dimana kita terbebas dari segala macam problema tapi ketika kita bisa bersykur dan tersenyum meski tengah dalam masa tersulit sekalipun.

You're your own home, so make yourself the most good person that always give positive energy to support you when u down, when the world is cruel just remember you're enough u still hv yourself, there's still hv a lot of reason to loving our self :).


 



Komentar

Postingan Populer