Toxic Positivity
Toxic positivity adalah kedaan dimana kita terobsesi untuk mengesampingkan emosi negatif seperti rasa cemas, takut, sakit hati, kecewa,dll dengan cara melupakan rasa tidak mengenakkan tersebut dan sebagai gantinya kita lebih memilih untuk terus menerus berfikir positif.
Dalam lingkup sosialku seringnya orang-orang mendoktrin untuk selalu berfikir positif atas segala hal, tapi pemikiranku terhadap positif thinking justru berbanding terbalik. Aku selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Tuhan, serta aku hanya menggantungkan pengharapan yang baik kepadaNya, namun alih-alih mengajak berprasangka buruk maksud tulisanku kali ini adalah mengajak kita untuk lebih berhati-hati.
Setiap hari sebelum memulai aktifitas aku selalu memikirkan resiko terburuk yang akan terjadi, aku selalu mengantisipasi terlebih dahulu hal buruk dan bagaimana caraku menanganinya serta menyiapkan caraku untuk menerima ketika nanti aku mengalami hari yang buruk.
Bukan dalam artian aku menganjurkan untuk lebih berfikir negatif tetapi memang dunia ini tidak dihiasi oleh hanya hal-hal baik saja, jika kita berbahagia kita tidak perlu mengharapkan berlebihan sebelumnya karena jika hal itu tidak terjadi kita akan kecewa,
sebaliknya jika kita menyiapkan terlebih dahulu segala resiko terburuk dalam hidup maka kita tidak akan terlalu kaget jika hal buruk menimpa kita. Dalam pemahaman Stoisisme ternyata juga pernah dipaparkan hal serupa dengan kebiasaanku tadi yang disebut dengan Premeditatio Malorum, yaitu membayangkan terjadinya masalah, kejadian buruk atau musibah sebelum benar-benar terjadi.
Tak hanya itu, reaksi yang rasional terhadap masalah tersebut juga dipikirkan. Kalau kata filsuf Stoa yakni Seneca beliau berkata : “Musibah terasa paling berat bagi mereka yang hanya mengharapkan keberuntungan.” Memang benar adanya hidup adalah tentang "hidup", tidak ada yang menjanjikan hidup adalah tentang bersuka cita berbahagia selalu maka perinsip Premeditatio malorum memang cocok untuk diterapkan.
Menimbun emosi-emosi negatif itu tidak baik karena jika kita tidak bisa menerima hal tersebut suatu saat ketika terjadi ujian yang lebih besar mentalitas kita tidak kuat karena terbiasa mengesampingkan emosi negatif, emosi negatif harus dirasakan harus diterima dengan bijak dan rasional dahulu, diolah baru ketika sudah saatnya dibuang.
Ketika kita berduka yasudah terima saja memang hidup di dunia ini tidak sempurna dan kita juga tidak sempurna, Tuhan menciptakan segala hal seperti itu agar kita bergantung dan hanya berharap kepadaNya. Kalau kita memang sebagai makhluk tidak diciptakan sempurna dan kita ikhlas kita ridho bahwa ini memang rencana Tuhan kita, lantas mengapa harus bersedih?.
Aku dulu amat sangat perfectionist, aku selalu marah dan sedih ketika aku melakukan sesuatu yang tidak sempurna lalu meratapinya namun sekarang tidak lagi. Toxic positivity sangat merugikan apabila selalu diterapkan, akan mengikis rasa percaya diri kita dan menjadikan kita rendah diri ketika harapan atas pemikiran positif tidak tercapai.
Dalam QS. Al-Anbiya ayat 35, Allah Berfirman: “Kullu nafsin dzaa-iqatul mauti wanabluukum bisy-syarri wal khairi fitnatan wa-ilainaa turja’uun.” yang artinya Tiap-tiap (tubuh) yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu, dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.
Diterangkan juga pada QS. Al-A’raf ayat 168:“Wa balaunahum bil hasanati was sayyiati la’al-lahum yarji’un,” yang artinya : Dan Kami uji mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).
Saat kita hidup kita diberikan pedoman oleh Tuhan kita Allah Subhanahu wa ta'ala dalam Alqur'an yang segala aspek kehidupan dibahas didalamnya, diterangkan bahwa hidup adalah untuk diuji jadi ketika sudah dapat spoiler seperti ini harusnya kita lebih bersiap lagi bahwa ujian itu memang akan datang kepada setiap manusia tanpa terkecuali,
tetapi semua bentuk ujian itu adalah untuk mendekatkan kita kepadaNya agar kita memperoleh keselamatan baik di dunia maupun di Akhirat. Kehidupan kita nanti lebih lama dibawah tanah dibanding diatas tanah, jangan lupakan kematian akan datang tanpa menanyakan kesiapan kita.
Maka dengan mengingat hal tersebut harapanya kita bisa mebih bersiap, terbebas dari pemikiran toxic positivity, dan menerima bahwa segala bentuk peristiwa yang terjadi adalah memang harus terjadi. Allah berfirman: “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan, Dan berikanlah berita gembira bagi orang-orang yang sabar.(QS Al-Baqarah ayat 155).
Komentar
Posting Komentar