Anak Pertama Itu ...

 Banyak video di salah satu platform media sosialku akhir-akhir ini yang membahas tentang sandwich generation. Mostly mereka adalah anak pertama yangmana punya tanggung jawab lebih untuk menghidupi diri mereka sendiri maupun keluarga mereka.

Aku salut banget banyak anak-anak hebat khususnya anak pertama yang rela banting tulang buat mencukupi kebutuhan keluarga mereka. Beberapa perusahaan di tempat tinggalku sekarang yang menggaji karyawan mereka setara UMR saja jarang, rata-rata gaji karyawan swasta dibawah UMR. 

Uang dengan nominal sedikit dan kerjaan yang menumpuk tentu nggak worth it tapi daripada mengaggur anak pertama harus mau menerima apa adanya karena mereka sadar jika mereka tidak gerak lantas siapa lagi?. Anak pertama itu mau makan diluar saja mikir panjang bagaimana kalau keluarga mereka dirumah belum makan tentu lebih baik uang disimpan untuk keperluan yang lebih penting. 

Dalam hidup memang banyak pilihan yang bisa kita ambil, kita punya kehendak dalam menentukan beberapa hal yang nantinya akan menentukan jati diri kita kedepanya, semua itu mutlak hak kita tetapi sayangnya ada 1 pilihan yang sama sekali nggak bisa kita tentuin, apa itu? 

ya, jadi anak pertama tentu itu bukan hal yang bisa kita atur, itu adalah takdir dari Sang Pencipta. Pundak yang paling kuat dada yang paling lapang dan senyum yang paling palsu kebanyakan memang dimiliki anak pertama. Harapan besar orang tua tentu ada pada anak pertama, mereka ingin anak pertama harus sempurna sebagai sosok teladan bagi anak mereka yang lain. 

Seringnya ketika anak bungsu melakukan kesalahan akibatnya juga harus arus ditanggung anak pertama dengan alasan tidak bisa menjadi contoh yang baik, orang tua agaknya sering lupa bahwa mereka juga terlibat dan mengambil andil dalam setiap perilaku anak-anak mereka tetapi mereka tidak sadar, mereka menjadikan anak pertama cermin bagi bagi anak mereka yang lain.

 Harus mengalah dengan alasan lebih dewasa adalah kewajiban anak pertama, andai orang tua tahu anak mereka yang lain yang masih kecil memang lucu menggemaskan dan setiap orang melihat serasa ingin memeluk tetapi sesungguhnya ada anak yang juga membutuhkan pelukan meski sebentar saja untuk menenangkan jiwa mereka yang kacau, 

tidak ada orang berubah karena usia semua orang berubah karena situasi dan tekanan kedewasaan, anak pertama jiwa mereka tetap seperti anak-anak ketika berhadapan dengan orang tua mereka, mereka tetap lemah seperti anak kecil yang butuh pertolongan. 

Terlebih jika anak pertama sudah memasuki dunia pekerja dengan tuntutan-tuntutan kantor yang rentan memicu stress, dukungan orang tua adalah satu-satunya yang dibutuhkan setiap anak tapi sekali lagi naasnya memang tidak semua orang tua tahu bahwa perhatian kecil dari mereka adalah faktor utama pemicu kestabilan mental anak. 

Di negara Indonesia ini masih banyak kemiskinan, dua hari lalu enam orang di Papua ditemukan meninggal sebab kelaparan, miris sekali tetangga mereka juga tidak memiliki rasa empati untuk peduli terhadap sesama. 

Jika masih belum memiliki kestabilan ekonomi dan kesadaran penuh akan tanggung jawab sebagai orang tua alangkah baiknya kita urungkan niat untuk memiliki anak, mengingat generasi sekarang yang krisis kesehatan mental sudah seharusnya kita prihatin dan berfikir ulang ketika mau mengambil keputusan dalam memiliki anak tanpa persiapan matang. 

Kemarin aku sempat baca di portal berita online ada public figure yang setiap minggu selalu menyempatkan ngajak keluar anak pertama mereka sendiri, mereka punya awareness kalau anak pertama mereka pasti punya kesulitan yang nggak mungkin diceritakan ketika dirumah. 

That's really a good news, memang menurutku communication is the key so ngajak anak berdiskusi itu bentuk kepeduliaan dan penghargaan dari orang tua ke anak dengan begitu anak pertama nggak merasa jadi anak yang tersisih dan harus selalu sempurna. 

Kita sebagai anak tentu tidak boleh menyalahkan segala kekurangan kita terhadap orang tua, namun tidak ada salahnya juga mengajak orang tua berdialog tetapi jika mengutarakan pertanyaan atau keluh kesah masih tidak mampu mengubah apapun semoga jika kita ditakdirkan menjadi orang tua kelak kita tidak mengesampingkan anak pertama kita dibanding anak-anak kita yang lain.

Komentar

Postingan Populer