Set Boundaries
Di era digital seperti sekarang ini informasi gampang banget di akses, dibalik kemudahan-kemudahan yang ditawarkan ada sisi baik positif maupun negatif. Sisi positifnya tentu banyak, kita bisa lebih cepat berinteraksi dengan orang lain dan mengetahui banyak informasi yang tentu dapat memudahkan dalam bersekolah maupun bekerja,
tapi memang begitulah hidup, jika ada putih ada hitam, ada ying ada yang, tetap banyak juga sisi negatif dari era digital ini. Bisa kita temui di berbagai platform sosial media seperti jual beli obat-obatan terlarang, pencurian uang, hingga human trafficking berupa jual beli organ manusia.
Tiap scroll sosial media ga jarang aku lihat orang banyak sharing daily activity mereka, nggak salah sih kita sharing hal-hal yang kita suka tapi sebelum kita posting coba think twice aman nggak kalau kita spill atau kasih tahu lokasi-lokasi yang kita datangi?
walaupun kita bukan celebrity, influencer atau public figure tapi perlu kita ketahui kalau semisal kita sering membagikan geo tag, kita kasih geo tag di setiap post yang kita share bisa berakibat buruk. Suatu tempat bisa jadi overthourism, semisal kita lagi hangout ke pantai dan pantai itu tergolong pantai yang masih perawan,
terlindungi dan emang sengaja gak di buka untuk orang-orang dalam kapasitas banyak terus bayangin kalau ternyata postingan kita mengundang banyak minat wisatawan untuk berkunjung yang nantinya bisa berdampak buruk terhadap lingkungan itu jika orang-orang yang datang over kapasitas dan nggak bisa menjaga kebersihan.
Banyak orang kurang paham bahwa ada beberapa wilayah yang memang sengaja tidak dipopulerkan destinasi wisatanya demi menjaga kelestarian lingkungan. Itu tadi cuma contoh, masih banyak hal lain yang sebenarnya membahayakan dan bisa disalah gunakan viewers sosial media kita kalau kita nggak bijak dalam menentukan batasan hal-hal yanga bakal kita upload.
Sering banget ketika aku lagi makan diluar banyak pengunjung yang alih-alih makan dengan nyaman bersama orang didepan mereka, mereka malah asik main hp masing-masing. Dari ujung ke ujung orang-orang seperti nggak cape menggunakan jarinya buat ngetik dan mendokumentasikan foto pribadi.
Mungkin emang ada beberapa yang kerja remote atau jualan online tapi seringnya justru cuma buat konten. Kadang aku cuma pengen ngasih tau bahwa quality time itu mahal loh take a rest please, taruh hp kita sebentar perhatiin orang-orang yang ada didepan kita dengan tulus atau kalau kita yang lagi me time perhatiin juga diri kita sendiri jangan too much scroll sosial media, it's not our real life.
Basiclly aku orang yang paling jarang berinteraksi sama orang lain kalau cuma basa basi, aku nggak banyak bicara ke kolega atau temanku sekalipun karena aku punya pembatas dalam berinteraksi sosial, semua hal pribadiku i keep for my self karena aku tau dengan melindungi privasiku maka privasi orang lain juga terlindungi.
Kalau kita ngomongin tentang set boundaries ini juga erat kaitanya dengan anxiety atau kecemasan yaitu dampak dari oversharing orang-orang maupun diri kita sendiri di sosial media.
Anxiety itu semua orang pasti punya cuman kadarnya aja yang beda-beda sesuai pribadi orang masing-masing dan cara mereka nerapin resiliensi ketika cemas, dan pemicunya sebagian besar juga kalau kita too much buka sosoal media terus kita compare kehidupan kita sama kehidupan orang lain yang jelas-jelas beda,
ngerasa bahwa kita kurang beruntung dan orang lain hidupnya lebih mudah padahal yang kita lihat cuma cangkangnya. Dulu akupun begitu sampe cape sendiri tiap jalan kurang bisa menikmati soalnya ga fokus quality time melainkan fokus nyari konten, biar apa? ya karena FOMO (fear of missing out) dan biar dapat validasi kalau udah jadi orang top wkwkwk emang gapenting banget padahal itu ciri-ciri NPD ( narsisstic personality dissorder)
pengenya dapat like dan validasi orang lain wich is really not important. Set boundaries itu perlu diterapkan menurutku soalnya semakin sedikit orang tau tentang kita telinga kita juga semakin gak akan panas gara-dengar omongan tidak penting dari orang lain,
ketika orang lain flexing semua kehebatan mereka kita cukup diam menyimpan rapat-rapat hal yang tidak memiliki nilai kebermanfaatan ketika di share. Dengan begitu kita mendidik diri kita sendiri buat nggak terbiasa menggantungkan kebahagiaan dari pengakuan orang lain yangmana emang pada dasarnya pendapat orang lain itu diluar kendali kita.
Set boundaries bukan berarti nggak bersosial dengan luas tapi lebih ke membatasi, kita tetap ramah,peduli dan mengedepankan kemanusiaan tetapi kita harus pintar-pintar memfilter setiap kata-kata yang kita ucapkan.
Ada yang bilang circle pertemanan itu makin dewasa makin menyempit tapi menurutku bukanya menyempit tapi makin dewasa daripada hura-hura orang lebih mendambakan kedamaian, tetap berkabar dengan teman-teman namun tidak berlebihan.
Komentar
Posting Komentar