Demotivasi, lagi?
Tinggal di negara tropis yang terdiri dari dua musim yaitu musim hujan dan kemarau dulu rasanya mudah memprediksi bulan-bulan apa aja yang bakal turun hujan atau sebaliknya, tapi sekarang siklus musim hujan ngga teratur.
Aku yang udah hidup sampe 24 tahun baru kali ini ngrasain kemarau panjang sampai susah nyari air, efek dari rumah kaca yang makin banyak membuat lapizan ozon makin menipis bumi jadi panas banget, well kalau diceritain sedih banget soalnya air adalah kebutuhan pokok manusia.
Banyak hal-hal yang mengusik pikiran mulai dari persoalan kerjaan, finansial, air, sampe perang di Palestina bener-bener nguras air mata. Rasa cape, bosen, malas, dan rasa takut selalu datang, bahkan disaat libur malah holiday blues yang membuat pikiran jadi demotivasi.
Gimana ga kehilangan motivasi hidup ketika banyak problema di depan mata. Bad side effect dari demotivasi buat aku pribadi kerasa banget dan kadang aku ngerasa sesak, aku butuh resiliensi dengan cepat. Makin dewasa tuntutan itu makin banyak tapi kalau dilihat lihat challange dalam hidup itu sifatnya sebenarnya sama cuma kejadianya berulang dengan timing yang berbeda,
kita sebenarnya bisa ngelaluin semua masalah hidup seperti sebelumnya. Biasanya pemicu demotivasi adalah faktor eksternal yang pada dasarnya nggak bisa nyakiti atau ngerugiin kita kalau kita ngga izinin,aku ambil contoh semisal ada orang yang ngomong hal buruk ke kita, alih-alih fokus sama omongan buruk tersebut justru respon kita yang paling utama,
kita yang memiliki kendali penuh atas diri kita so kalau kita ngga izinin faktor luar mempengaruhi stabilitas mental kita ya kita ngga akan terluka. Berfikir itu pekerjaan yang sulit maka dari itu sebagian orang lebih milih ngejudge and never think twice.
Ironisnya lagi kenapa sih ketika orang lain nyakitin kita lewat kata-kata mereka kita malah nyakitin diri sendiri kita sendiri dua kali dengan mengingat-ingat omongan buruk tersebut. That's the saddest fact that i've ever done. Let's be kind to other's, mostly ketika aku ngalamin demotivasi aku milih rehat dan coba keliling ngelihat betapa banyaknya orang hidup lagi sama-sama berjuangnya kaya kita.
Akhir-akhir ini ada tren yang menurutku sedikit tabu buat dibicarakan, yaitu tren bunuh diri tapi faktor utama yang bikin korban semakin bertambah dari tren ini adalah orang-orang yang sudah pasti ngalamin demotivasi dalam hidup terus ngikut-ngikut orang lain yang melakukan, berawal dari bulan lalu ada mahasiswi yang bunuh diri gara-gara soal sidang skripsi, ada lagi anak remaja terjun dari mall, anak SMP menabrakan diri dengan sengaja ke kereta, dll.
Mirisnya komen nitizen yang jadi highlight adalah kata-kata "aku juga mau ikut", "lah ko ngga ngajak aku sih", "yang tenang ya disana sebentar lagi aku susulin". What the f*cking stupid comment bro? kaya segampang itu aja kita bisa ngebunuh diri sendiri sampe lupa nanti di akhirat pertanggung jawaban kita kaya gimana? kaya kita udah ada banyak bekal buat balik aja :') , i feel u akupun sama-sama berjuang cuma badai kita aja yang beda tapi please don't normalize suicide, like bruh u really wanna go to hell? please stay safe please be brave, please choose to still alive.
Banyak makanan enak yang belum kita coba, tempat fantastis yang belum kita jelajahi, banyak orang-orang baru yang beum kita temui, banyak orang-orang kurang mampu yang butuh uluran tangan kita.
So ketika ngerasa demotivasi jangan cuma fokus dengan penyebab kita stress atau banyak fikiran tapi justru lebih fokuslah untuk apa kita sampe saat ini bertahan hidup dan melakukan semua pekerjaan kita yang semua itu adalah untuk membuat kita memiliki nilai kebermanfaatan hidup.
Bukan cuma orang lain tapi diri kita sendiri, ingat cuma kita dan Tuhan yang bisa menyelamatkan diri kita, bukan orang lain. Ketika pengen nyerah ngerasa demotovasi akut ingat kalau usaha mungkin emang bisa menghianati hasil, tapi kemalasan ga bakal ngehianatin kita, jangan malas-malas bekerja, kalau kita lebih bisa memiliki semangat hidup dan menebar kebaikan, semakin banyak orang-orang baik semakin bisa menjadikan bumi ini layak huni.
Komentar
Posting Komentar