Konsumerisme

Sesekali membelanjakan uang untuk hal-hal yang bikin kita senang itu emang gapapa, sekarang orang-orang nyebut hal ini sebagai self reward, ada juga yang mengalibikan belanja sebagai alternatif untuk membahagiakan innerchild mereka. 

Menurutku apapun istilah dalam melakukan transaksi jual beli itu nggak ada yang salah, tapi kalau udah jadi habit dan over konsumerisme gimana? seringnya orang itu kalau gabut belanja, sedih belanja, stress juga belanja, belanja dijadikan sarana recovery. 

Apalagi sekarang segala hal dipermudah, akses secara digital mempercepat transaksi kita tinggal sekali pencet bisa transfer apapun via mbanking, awalnya seru sih bisa belanja dengan praktis tapi justru ini adalah awal over konsumerisme yang memudahkan kita juga untuk krisis secara finansial.

Mental orang yang  kaya itu mereka selalu bersyukur dan merasa cukup apapun yang dia punya dan karena tau sulitnya cari uang maka orang dengan mentalitas kaya akan lebih mengutamakan kebutuhan dibanding keinginan atau obsesi terhadap barang, beda dengan orang yang bermental miskin, mereka akan cenderung selalu merasa kekurangan sehingga sering belanja secara over, orang-orang ini biasa disebut shopaholic. Shopahoic ini cuma sekedar hobi atau bisa mengindikasikan gangguan mental?

Melihat fenomena over konsumerisme yang ada sebenrnya ada sisi baik juga tapi sisi baik ini adalah bagi para pedagang karena mereka berhasil menjual produk-produk mereka, secara nggak langsung kita ikut andill dalam memajukan perekonomian negara,

 tapi menurutku yang jadi high light adalah kita juga harus mulai meningkatan kesadaran tentang efek buruk over konsumerisme atau berlebihan ketika belanja, kita harus bisa memanagement keuangan kita dengan lebih baik dan menekan pengeluaran seminimal mungkin. 

Negara kita Indonesia ini bukan tergolong Negara maju yang sudah sejahtera secara financial, maka dari itu aku mulai nerapin gaya hidup minimalis. Kalau soal makan dan minum gampang diatur toh banyak makanan sehat dan bergizi yang nggak begitu pricy, ini agak sulit pasti ditrapkan sama gen Z soalnya ngopi di tempat fancy udah jadi suatu keharusan,

 akan lebih baik kalau intensitas ngopi di tempat mahal dikurangi, banyak alternatif tmpat nongkrong atau quality time yang low budget asal kita mau nggak gengsian dan mengutamakanb kebutuhan hidup disbanding gaya hidup.

 Yang kedua dan menurutku paling krusial adalah tetang fashion, jujur semasa kuliah koleksi bajuku banyak banget dan akhirnya menumpuk di lemari, sekarang aku udah bosen sama sebagian besar bajuku dan pada akhirnya aku inisiatif buat sumbangin beberapa baju dan aksesorisku ke saudara dan ke panti asuhan.

 Harapanya biar lebih bermanfaat, buat apa kita punya banyak baju kalau nggak dipakai so aku menerapkan gaya wardrobe capsule dengan cuma nyisain warna-warna basic yang bisa aku mix and match, aku pilih beberapa baju dan bawahan yang sifatnya  timeless,  bisa buat acara formal/casual.

 Aku nggak malu biarpun cuma punya sedikit baju justru bisa buat pengeluaran lebih efisien yangmana ini juga merupakan faktor penting untuk menjaga stabilitas mental kita, menekan over konsumerisme hidup bisa lebih balance, jangan terlalu obsesi dengan benda-benda yang sifatnya temporer, belinya pakai banyak uang, bahagianya sesaat,menyesalnya bisa seumur hidup.

Komentar

Postingan Populer