Kebenaran Kolektif

Kalau ngomongin soal “kebenaran”, indikator benar atau salah itu ada nggak sih sebenarnya? Sekarang ini belum tentu sesuatu yang kita anggap benar itu memang mutlak benar adanya, yang sering terjadi adalah standar benar atau salah dalam menentukan hasil dari suatu perkara itu dinilai dari sudut pandang bersama, (suara terbanyaklah yang pendapatnya paling dianggap benar).

Hal ini disebut dengan kebenaran kolektif, inilah yang menjadi alasan kenapa manusia suka mencari validasi karena mereka selalu beranggapan bahwa pendapat orang lain itu lebih valid, apalagi jika pendapat tersebut disetujui oleh banyak orang maka yang tadinya udah valid nih berubah jadi valid banget.

 Pernah gasih kalian berhadapan dengan sekelompok orang yang punya hobi sama, hobinya itu ngomongin orang lain dan mau nggak mau kalian harus hidup berdampingan dengan mereka, aku kasih contoh geng-geng di sekolah yang suka bikin onar, malakin uang teman mereka dan yang satu lagi banyak terjadi adalah kelompok orang di tempat kerja yang kerjaanya gossip terus menerus.

 Lantas gimna sih cara biar kita bisa hidup tanpa mereka? Jawabnya tentu gabisa, gamungkin kan kita melakukan tindak genosida ke mereka :), dimanapun kita berada akan selalu ada orang yang gasuka sama kita, belum tentu karena kita melakukan tindakan-tindakan salah, tapi ya karena mereka emang gasuka aja. 

Yang disayangkan adalah seringnya sekarang ini sesuatu yang salahpun dianggap benar jika banyak suara yang mengatakan bahwa hal tersebut benar, jadinya untuk membentuk kultur hidup dan nilai-nilai suatu hal itu harus diakui dulu kebenaranya oleh banyak orang. Padahal kuantitas bukan cermin dari kualitas, gimana kalau standar benar atau salahnya suatu hal itu berdasarkan pendapat sekelompok orang yang suka gossip dan ngomongin keburukan orang lain selama 24/7 ?

Aku pernah membaca kutipan filsafat stoisisme yang isinya gini :  “orang-orang dengan tingkat kecerdasan yang tinggi akan lebih suka membicarakan tentang ide, orang-orang dengan kecerdasan rata-rata akan membicarakan peristiwa, sedangkan orang-orang bodoh cenderung lebih senang membicarakan orang lain”.

 Kalau kita sudah merasa memaksimalkan dan mengupgrade diri secara optimal kita tentu nggak akan punya waktu untuk mengoreksi orang lain, jadi alih-alih ngomongin keburukan orang lain alangkah baiknya waktu-waktu luang kita maksimalkan untuk menambah ilmu, melakukan hal-hal yang kita suka, atau berkumpul dengan orang-orang tersayang. 

Dengan lebih fokus ke diri sendiri kita akan lebih mudah menjalani hidup, pikiran jadi lebih tertata dan Ilmu yang kita pelajari semakin teraktualisasi. Sibuk memperbaiki diri jauh lebih baik dibanding memiliki terlalu banyak waktu luang hingga menjadikan seseorang lebih perhatian dengan orang lain tanpa berkaca apakah segala tindakan yang dilakukanya itu benar, atau salah.


 


Komentar

Postingan Populer