Happines In Solitude
Dari sekian banyak klasifikasi dari love language, quality time adalah hal yang menurutku paling bernilai. Di tengah kesibukan kerja meluangkan waktu buat orang lain itu sama dengan kita ngerela'in waktu kita yang berharga, bagi orang dewasa time is money, am i right?
Setelah melewati masa transisi dari yang awalnya mahasiswa berubah jadi karyawan swasta aku benar-benar lebih menghargai waktu tapi bukan berarti semua waktuku aku komersilkan biar produktif, aku justru menerapkan work life balance yangmana aku nggak ngeforce energi aku buat terlalu bekerja keras aku juga sempatin diri buat healing atau ngerecharge energy.
Cara aku recovery dari penatnya rutinitas kerja emang bisa dibilang agak boring atau boring banget soalnya mostly emang aku gunain buat stay dirumah entah masak, nonton film, baca buku, dll. Dulu semasa kuliah aku rasa waktu aku buat nongkrong dan bersosial jauh lebih banyak soalnya tekananya belum begitu banyak so gamasalah ngabisin banyak waktu buat memperbanyak networking atau sekedar have fun
tapi sekarang kalau ga penting -penting banget aku prefer dirumah selain biar lebih efisien juga biar tetap menjaga kestabilan mental dengan nyari inspirasi buat nambah insight. Orang mungkin menyebut kebiasaanku ini sebagai introvert atau anti social, but actually im not at all,
im still like to talking and sharing with other people but for now the different thing is i've more awareness about mental health so maybe i become little bit picky to choose friend or partner, aku gapunya kriteria tertentu sih if we vibe , we vibe and if we're not i choose being alone and respect my solitude.
Banyak orang berasumsi bahwa aku yang sekarang sombong gara gara jarang mau diajak keluar atau buat sekedar ngumpul bareng padahal faktanya big no, aku masih menyempatkan waktu quality time sama keluarga atau kerabat terdekat aku kog cuman intensitasnya aja yang mungkin kurang terbilang sering.
Aku bener-bener set boundaries from toxic people, alih-alih anti sosial aku lebih ke gak punya toleransi terhadap drama. Banyak manusia berkumpul atau membentuk perkumpulan yang isinya orang-orang dengan habit sama, semisal ini habitnya banyak ngelakuin hal negatif at last aku bisa berpotensi terbawa kalau gabung so aku pilih ga gabung.
Aku bukan tipe orang yang suka cut off orang, aku nggak cut off tapi lebih tepatnya i distance my self from toxic people, if some people always drained my energy when we start talking ya aku kurangin intensitas bicara dengan orang tersebut.
Balik lagi ke pembahasan awal kan bahwa waktu itu berharga banget dan cepat berlalu jadi jangan buang-buang waktu percuma buat hal yang merugikan diri kita.
Aku kadang mikir untuk berada di generasi sekarang aku kayanya nggak cocok soalnya sekarang itu orang ngelihat kepribadian kita sebagian besar dari social media sedangkan aku pribadi baik di real life ataupun di sosial media prefer keep my privacy safe gitu beda dengan orang-orang suka ngasih makan sosial media.
Ngasih makan sosial media disini maksudku kaya buang-buang waktu berharga buat lebih banyak nge capture momen terus diupload, jadi yang ada cuman dokumentsinya bagus dan bisa di share gitu, tapi pertanyaanya adalah are u guys really enjoyed that moment? trust me there's a lot of fake pic in social media that people share.
Dengan ngelihat sosial media dan akhirnya ngikutin life style orang yang high maintenace itu nggak salah kalau kita niat gunain buat kemajuan diri kita atau biar kita glow up lah soalnya itu bentuk penghormatan kita terhadap diri kita sendiri bukan untuk orang lain.
Cara instant buat kecewa itu kalau kita kebiasaan hidup bergantung sama orang lain, kita emang makhluk sosial selalu butuh koneksi dengan sesama makhluk tapi jangan paksa diri kita buat fit di suatu kelompok yang menurut kita itu jelas-jelas nggak sehat.
Waktu kita terlalu berharga buat kita buang dengan orang yang salah. Kalau kita udah biasa happy dengan diri sendiri dan ga masalah buat ga selalu perlu dibersamai seseorang buat sekedar makan atau kemana dan ngapain aja berarti kita udah punya mentalitas yang kuat dan pastinya lebih mandiri.
Ada ungkapan dari anonim di salah satu platform sosial media yang pernah aku baca dan isinya gini : U think u can hurt my self? bro i didn't even celebrate my own birthday. Aku bisa relate banget sih di kutipan itu. Aku nggak terobsesi dengan angka dan hari-hari tertentu,
kapanpun bisa jadi hari bahagia selama aku menghendaki diriku sendiri buat bahagia. There's a lot of stupid mindset of people yang di normalize oleh sebagian orang so kalau kita nggak pinter kita bakal kebawa.
When people really love their self, they will put their sanity first than others so dont worry to be alone, bisa jadi waktu Quality time kita buat diri sendiri juga bisa menjembatani kedekatan kita dengan Tuhan kita Allah Subhanawata'ala.
Komentar
Posting Komentar