Do What U Fear & Fear Disapear
Rasa takut itu pada dasarnya cuma tipuan skenario yang kita ciptain sendiri di kepala kita dan itu sifatnya nggak nyata. Emang dalam hidup cuma ada dua kemungkinan output ketika kita lagi ngusahain sesuatu yaitu berhasil atau gagal, sayangnya banyak orang yang stuck & nggak membuat kemajuan dalam hidup mereka karena takut salah, takut gagal padahal hasil akhir dari segala sesuatu itu diluar kendali kita.
Kita nggak diwajibkan berhasil ketika tengah mengusahakan sesuatu, tapi kita harus mau berusaha dan ngebuang rasa takut dalam diri. Biasanya yang terlitas di kepalaku ketika mau memualai sesuatu itu "gimana ya kalau gagal" , tapi sekarang coba aku ubah jadi "gimana ya kalau ternyata berhasil". Itu yang selalu aku tanemin karena aku tau risiko atas segala sesuatu itu pasti ada tapi tanpa berani ambil risiko kita juga nggak bakalan bisa maju.
Semua orang itu pasti punya ketakutan masing-masing tapi ketika aku punya rasa takut akan sesuatu, alih-alih tenggelam aku justru ngelawan perasaan takut itu karena nyatanya nggak semua hal yang kita takutin bakal terjadi.
Aku pernah mikir bahwa aku nggak punya cukup kompetensi buat meraih hal-hal hebat seperti orang lain, aku tau aku bukan anak yang terbilang pinter secara akademis tapi justru karena aku sadar aku punya banyak kekurangan alih-alih pesimis aku justru ngechallange diri aku buat naklukin rasa takut yang aku miliki.
Sebelum lulus SMA aku mulai mengeksplore bidang-bidang apa yang menurutku aku suka dan barulah aku dapat saran dari guruku sejarah untuk lanjut ambil bidang hukum karena kata Beliau aku punya potensi di bidang itu. Awalnya aku pengen ambil jurusan sastra inggris waktu kuliah tapi setelah aku pikir-pikir lagi kayanya aku prefer ambil hukum.
Semasa kuliah aku bener-bener memaksimalkan waktu aku buat belajar dan memperluas networking demi menunjang kemampuanku buat nambah ilmu dan pengalaman yang syukur Alhamdulillah berkat usaha dan Izin Allah Subhanahu WA Ta'ala aku bisa lulus tepat waktu dengan predikat cumlaude.
Setelah lulus kuliah aku diberi kemudahan juga oleh Allah Subhanahu WA Ta'ala yaitu aku bisa dapat pekerjaan sebagai legal staf yangmana itu merupakan anugrah buat aku karena memang susah dapat posisi linier dengan jurusanku kalau masih fresh graduate, mostly legal staf itu harus punya pengalaman minimal satu sampai dua tahun baru bisa gampang cari kerjaan tapi syukur Alhamdulillah aku bisa diterima setelah mengikuti serangkaian test.
Walaupun aku bekerja di perusahaan yang nggak terbilang besar tapi aku bersyukur banyak ilmu dan pengalaman berharga yang aku dapat. Memasuki masa dunia kerja itu adalah masa dimana kita bener-bener ngerasain paitnya hidup pokonya sepintar-pintarnya kita sama teori tetep nggak semudah itu.
Menjadi seorang legal staf itu sendiri aja udah ngeri soalnya yg dipegang bukan sesuatu yang main-main, tanggung jawabnya besar dan risikonya juga besar kalau kita nggak hati-hati tapi kalau kita mau belajar dan mawas diri ya kita akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat dan kompetensi dalam diri kita bisa bertambah tentunya.
Awal masuk kerja banyak banget cobaan yang aku terima, tapi aku sadar emang pada saat itu aku belum punya kapasitas yang mumpuni buat jadi pekerja karena minimnya pengalamanku, maka dari itu aku tetap stay walaupun rasanya mental udah rapuh.
Tapi aku nggak pernah nyerah, ketika aku bikin kesalahan dan aku dikiritik banyak orang justru aku ambil pelajaran dan aku buat evaluasi diri aku supaya kedepanya bisa lebih baik. Dunia kerja itu emang keras banget kita nggak cuma dituntut cerdas secara intelektual tapi kita juga harus cerdas secara emosional.
Cerdas secara emosional itu maksudnya adalah cerdas dalam meregulasi emosi, kita harus selalu tenang dan nggak boleh langsung meledak-ledak ketika terjadi sesuatu yang mengancam kita, kalau dalam pemahaman filsafat stoic ada teknik yang namanya ( stop, think, assess, Respond) atau bisa disingkat STAR.
Yang pertama perlu kita lakukan ketika tengah menghadapi sesuatu yang tidak mengenakkan adalah berhenti lalu kita pikir dan nilai baru selanjutnya kita respond. Kalau menurut pengalaman pribadiku nggak selalunya ketika kita dimarahin orang itu sepenuhnya kita salah, bisa jadi ada latar belakang masalah pribadi orang lain yang bisa jadi pemicu buat orang tersebut marah ke kita sebagai pelampiasan so kita harus pinter-pinter ngelola emosi karena di dunia kerja emang kita harus profesional jangan mudah terbawa emosi.
Buat beginner emang harus berusaha menjaga kewarasan diri. Banyak cara buat kita bisa punya keberanian lebih untuk mengatasi ketakutan salah satunya adalah nambah pemahaman dengan meningkatkan minat baca karena banyak hal baik yang bisa kita ambil dari membaca, ketika kita membaca buku tentang self improvement misal,
kita pasti bakal tau banyak cerita dan perspektif dari orang-orang lain sebelum kita yang nyatanya mereka juga pernah berada di posisi kita, orang-orang sebelum kita yang sekarang udah jadi senior dulunya juga pernah berbuat kesalahan dan pernah mengalami masa-masa sulit ketika masih memulai sama seperti kita, dengan tau banyak pengalaman orang lain kita bisa ambil hikmah dan pelajaran dari mereka dan dengan itu juga kita dapat mood booster yang bisa memacu semangat kita buat maju.
Rasa takut itu emang gamungkin hilang total dari pikiran setiap manusia tapi kita masih bisa mengatur mindset kita buat jangan menjadikan rasa takut itu penghalang buat kita berkembang. Lebih baik kita berani menghadapi tantangan meski masih memiliki rasa takut daripada kita stuck ditempat dan nggak berbuat apa-apa toh endingnya nggak dapat apa-apa juga.
Kadang ketika aku ngerasa aku takut akan sesuatu, yang aku yakini adalah memang aku ini cuma manusia biasa, aku cuma bisa berusaha melakukan hal-hal yang bisa aku usahain dan untuk hasilnya aku yakin udah di atur oleh sebaik-baiknya pengatur kehidupan yaitu Allah Subhanahu WA Ta'ala.
Manusia itu emang terbatas tapi jangan lupa walaupun kadang kita ngerasa bahwa kita nggak punya power lebih selalu ingat bahwa kita punyaAllah Subhanahu WA Ta'ala yang maha besar dan bagi Allah masalah kita nggak seberapa dibanding rahmat dan karuniaNya. Selama kita masih bisa berdoa percayalah ketika tangan kita menengadah kepada Sang Pencipta, maka tangan yg kita gunakan untuk berdoa itu tidak akan kembali dalam keadaan kosong.
Komentar
Posting Komentar